Nama Universitas Andalas (Unand) kembali mencuat lewat capaian akademik yang tak datang dari ruang seremoni, melainkan dari ukuran yang lebih keras: produktivitas ilmiah. Dosen sekaligus peneliti Unand di Sumatra Barat, Dr. Eng Muhammad Makky, masuk dalam daftar 100 ilmuwan terbaik di Indonesia versi AD Scientific Index. Capaian ini menempatkan Unand dalam sorotan sebagai kampus yang risetnya mulai mendapat pengakuan lebih luas, termasuk di tingkat internasional.
Pengakuan atas kerja riset yang konsisten
Rektor Unand, Prof Yuliandri, menilai masuknya peneliti Unand dalam daftar tersebut menjadi bukti bahwa penelitian yang dilakukan di kampus itu tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga diakui secara global. Menurut dia, keberhasilan ini lahir dari rangkaian publikasi, riset, dan karya ilmiah yang selama ini dikerjakan para peneliti Unand serta dimanfaatkan masyarakat.
Dalam pemeringkatan AD Scientific Index, penilaian didasarkan pada kinerja ilmiah dan nilai tambah produktivitas para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir. Muhammad Makky, yang juga mengajar di Fakultas Teknologi Pertanian Unand, masuk jajaran 100 peneliti terbaik pada bidang oil palm, automation, machine vision, spectroscopy, dan nondestructive.
Unand dorong peneliti tembus jurnal internasional
Prof Yuliandri berharap pencapaian tersebut tidak berhenti sebagai kabar baik sesaat, tetapi menjadi dorongan bagi peneliti lain di Unand untuk terus bersaing. Ia juga ingin prestasi ini menjadi pemantik bagi perguruan tinggi di luar Pulau Jawa agar semakin percaya diri menembus pemeringkatan ilmiah yang lebih luas.
Ke depan, Unand berkomitmen terus mendorong para penelitinya memberi kontribusi bagi dunia pendidikan, salah satunya melalui publikasi di jurnal internasional. Dalam pandangan kampus, pengakuan seperti ini bukan semata soal peringkat, melainkan juga soal sejauh mana riset mampu menjawab kebutuhan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
AD Scientific Index dan ukuran produktivitas ilmiah
AD Scientific Index dikenal sebagai lembaga yang melakukan pemeringkatan dan analisis ilmuwan dari berbagai negara berdasarkan kinerja serta produktivitas ilmiah. Penilaiannya menitikberatkan pada efektivitas kerja dan hasil yang dihasilkan dalam lima tahun terakhir, sehingga capaian seorang peneliti dibaca dari jejak kerja yang konkret, bukan sekadar reputasi.
Di tengah persaingan akademik yang makin ketat, masuknya Muhammad Makky ke daftar tersebut menjadi penanda bahwa riset dari kampus daerah juga bisa bersaing di level nasional dan internasional. Bagi Unand, ini sekaligus menegaskan bahwa kerja ilmiah yang konsisten dapat membuka ruang pengakuan yang lebih luas bagi institusi dan para penelitinya.
