JPNN.com, JAKARTA – Kasus perusakan tempat ibadah di Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, kembali memantik sorotan publik setelah pendakwah KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah angkat bicara. Ia menilai peristiwa itu bukan sekadar tindakan merusak bangunan, melainkan juga pukulan terhadap nilai-nilai kebersamaan yang selama ini dijaga di tengah masyarakat.
Gus Miftah Soroti Pentingnya Toleransi
Gus Miftah menegaskan bahwa kehidupan beragama di Indonesia hanya bisa berjalan sehat jika setiap kelompok saling menghormati. Menurut dia, perbedaan keyakinan semestinya tidak dijadikan alasan untuk menebar kebencian, apalagi sampai berujung pada tindakan merusak tempat ibadah. Ia mengecam keras insiden yang terjadi di Sukabumi dan menyebutnya sebagai bentuk intoleransi yang tidak bisa dibenarkan.
Dalam pandangannya, menjaga kerukunan jauh lebih penting dibanding mempertahankan sikap yang memicu perpecahan. Karena itu, ia menyerukan agar masyarakat menempatkan toleransi sebagai sikap utama dalam berinteraksi sehari-hari, baik di lingkungan rumah, kampung, maupun ruang sosial yang lebih luas.
Ajakan Menjaga Harmoni Sosial
Gus Miftah juga mengingatkan bahwa kedamaian tidak lahir begitu saja, melainkan harus dirawat dengan saling menghormati antarumat beragama. Ia menilai, ketika satu kelompok merasa berhak mengganggu hak kelompok lain, maka yang terdampak bukan hanya korban langsung, tetapi juga rasa aman di tengah masyarakat.
Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk menahan diri dan tidak memperkeruh suasana. Sikap bijak, kata dia, menjadi kunci agar peristiwa serupa tidak kembali terulang dan hubungan antarwarga tetap terjaga dalam suasana rukun.
Source link
