Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), kini ditempatkan sebagai mesin percepatan pengentasan kemiskinan. Tiga kebijakan ini dinilai bukan sekadar bantuan sosial, melainkan pintu masuk untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat miskin.
Targetnya Bukan Sekadar Membantu, Tapi Mengangkat
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menegaskan, arah kebijakan pemerintah tidak berhenti pada mengurangi beban warga miskin. Menurut dia, yang ingin dibangun adalah kemampuan masyarakat untuk berdiri sendiri dan tidak terus bergantung pada bantuan.
Budiman menggambarkan strategi itu seperti pertandingan sepak bola. Dalam pandangannya, rakyat miskin adalah para pemain yang harus dibuat lebih terampil, cukup makan, dan punya kekuatan ekonomi. Sementara pemerintah berperan sebagai pelatih yang memastikan transisi dari bertahan ke menyerang berjalan mulus sampai tujuan akhir, yakni penghapusan kemiskinan, benar-benar tercapai.
Sekolah Rakyat dan MBG Jadi Pengungkit Baru
Di antara program yang disorot, Sekolah Rakyat disebut sebagai upaya memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan berasrama. Model ini diarahkan agar anak-anak dari keluarga miskin bisa keluar dari lingkungan yang selama ini membatasi ruang tumbuh mereka.
Sementara itu, MBG dan Kopdes Merah Putih dipandang memberi dampak yang lebih luas karena menyentuh rantai ekonomi di tingkat bawah. Kehadiran dapur MBG dan gerai Kopdes diyakini dapat membuka jutaan peluang kerja, baik di sektor pertanian, usaha kecil dan menengah, maupun badan usaha milik desa.
Dampak Ekonomi Menjalar ke Desa
Wakil Kepala BP Taskin Nanik S. Deyang menilai program-program ini memberi harapan nyata bagi keluarga miskin. Ia menyoroti bagaimana sekolah berasrama dapat menjauhkan anak dari situasi yang membatasi, sementara operasional MBG ikut menghidupkan produsen lokal.
Menurut Nanik, efek berantai dari MBG sudah mulai terasa di lapangan. Salah satu contohnya, usaha kecil seperti pabrik tahu dan tempe skala rumahan dapat menambah tenaga kerja setelah terhubung dengan kebutuhan pasokan MBG. Artinya, manfaat program tidak berhenti di meja makan penerima, tetapi ikut menggerakkan produksi di tingkat bawah.
Kopdes Pangkas Mata Rantai yang Membebani Petani
Kopdes Merah Putih juga diposisikan sebagai solusi untuk memotong biaya distribusi yang selama ini memberatkan petani. Lewat koperasi ini, petani bisa memperoleh pupuk dan kebutuhan penting lain dengan harga lebih terjangkau tanpa harus melalui terlalu banyak perantara.
Selain itu, Kopdes disebut membuka akses pembiayaan yang lebih adil. Warga tidak lagi harus bergantung pada rentenir, karena tersedia skema pinjaman dengan syarat yang lebih manusiawi dibandingkan sumber kredit yang selama ini kerap menjerat. Dengan cara ini, Kopdes Merah Putih diharapkan menjadi jalur baru agar ekonomi desa bergerak dari bawah, bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh lebih mandiri.
Source link


