Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) memberi sorotan positif atas keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang memilih mundur dari kursi DPR RI. Bagi PB HMI, langkah itu bukan sekadar keputusan politik, melainkan bentuk akuntabilitas pribadi yang jarang ditunjukkan secara terbuka oleh seorang pejabat publik.
Langkah yang Dinilai Punya Nilai Teladan
Ketua Umum PB HMI Bagas Kurniawan menilai sikap Rahayu layak diapresiasi karena memperlihatkan integritas, tanggung jawab, dan keberanian untuk menanggung konsekuensi dari pilihannya. Dalam pandangan PB HMI, keputusan seperti ini memberi pesan kuat bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut hadir saat mengambil kesempatan, tetapi juga harus siap bersikap ketika menghadapi situasi yang menuntut pertanggungjawaban.
Bagas menyebut, tindakan tersebut dapat menjadi contoh bagi generasi pemimpin berikutnya. Di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi terhadap pejabat negara, keputusan untuk mundur secara sadar dinilai menunjukkan kedewasaan dalam memegang amanah dan menjaga etika kepemimpinan.
Akuntabilitas Jadi Ukuran Penting Kepemimpinan
PB HMI menekankan bahwa akuntabilitas bukan sekadar jargon, melainkan fondasi utama dalam kepemimpinan yang sehat. Menurut organisasi mahasiswa itu, kejujuran dan integritas harus menjadi standar yang melekat pada siapa pun yang memegang jabatan publik. Karena itu, keputusan Rahayu dianggap memberi energi positif di tengah kebutuhan akan pemimpin yang lebih terbuka dan bertanggung jawab.
PB HMI juga berharap langkah tersebut tidak berhenti sebagai peristiwa individual, tetapi bisa mendorong pemimpin lain untuk menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas segalanya. Dalam pandangan mereka, keberanian mengakui kesalahan atau mengambil konsekuensi adalah bagian penting dari kualitas kepemimpinan yang patut diwariskan kepada generasi mendatang.
Pesan untuk Pemimpin Muda
Melalui sikap ini, PB HMI melihat ada pesan yang lebih luas: bahwa jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Karena itu, keputusan Rahayu Saraswati disebut pantas dijadikan rujukan moral bagi pemimpin muda yang ingin membangun kepercayaan publik dengan cara yang lebih jujur dan bertanggung jawab.
Source link
