Menurut penelitian terbaru, orang yang dapat berbicara beberapa bahasa cenderung menua lebih lambat daripada yang hanya bisa berbicara satu bahasa. Penelitian ini melibatkan lebih dari 86.000 orang dewasa di Eropa dengan usia antara 50 dan 90 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang multibahasa memiliki risiko penuaan yang lebih rendah. Bahkan, semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin besar manfaat perlindungan terhadap penuaan yang mereka dapatkan.
Profesor Dr. Peter Berlit, seorang ahli neurologi dari Jerman, menyatakan bahwa multibahasa juga dapat melindungi terhadap penurunan fungsi kognitif atau demensia. Ia mengatakan bahwa berbicara banyak bahasa dapat menjadi faktor pelindung terhadap demensia. Meskipun penelitian ini tidak melibatkan penderita demensia, tetapi menunjukkan indikasi penting di mekanisme yang dapat mengurangi risiko penurunan kognitif pada usia lanjut.
Menurut Profesor Berlit, orang yang menguasai beberapa bahasa memiliki kelebihan cadangan kognitif, yang memungkinkan mereka memiliki lebih banyak memori yang dapat digunakan saat menua. Ia menyarankan mempelajari bahasa baru dapat menjadi langkah sederhana dan efektif untuk pencegahan demensia.
Penelitian ini tentu menarik karena di era teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang, nilai multibahasa mungkin terlihat tergerus. Namun, peneliti akan terus mencari apakah belajar bahasa baru saat usia lanjut juga memberikan perlindungan yang sama terhadap demensia. Profesor Berlit percaya bahwa kedua hal tersebut sama-sama bermanfaat, namun masih perlu bukti lebih lanjut.
Dengan demikian, belajar beberapa bahasa bisa menjadi langkah preventif yang mudah dan efisien dalam menjaga kesehatan mental di masa tua. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai pentingnya multibahasa tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga untuk kesehatan otak dan pencegahan demensia di usia lanjut.












