Playing victim adalah perilaku seseorang yang terus-menerus memposisikan dirinya sebagai korban dalam setiap konflik, meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Hal ini bukan hanya mencari simpati, tetapi juga merupakan pertahanan diri untuk menghindari tanggung jawab. Terkadang perilaku ini merupakan indikator adanya gangguan kesehatan mental tertentu seperti gangguan kepribadian narsistik atau PTSD. Dampak buruk dari perilaku ini dapat mencakup rasa frustrasi, stres kronis, hingga depresi.
Perilaku playing victim biasanya muncul dari perasaan menderita yang dilebih-lebihkan dan hilangnya rasa kendali diri. Orang yang terjebak dalam pola pikir ini umumnya percaya bahwa kemalangan akan terjadi berulang kali, menyalahkan pihak luar atas masalahnya, dan pesimis terhadap perbaikan keadaan. Mengenali tanda-tanda perilaku playing victim dapat membantu menghindari terjebak dalam manipulasi seseorang.
Penyebab perilaku playing victim bisa berasal dari berbagai faktor, seperti trauma masa lalu, rasa kurang percaya diri, korban pengkhianatan, hingga kesulitan mengelola emosi negatif. Menghadapi seseorang yang suka playing victim memang menjadi tantangan, namun penting untuk tetap bersikap empati. Terapkan batasan yang tegas, jangan langsung validasi peran korban mereka, tetap tenang, dan arahkan pembicaraan pada upaya penyelesaian masalah. Jika perilaku mereka sudah berlebihan, dukung mereka untuk berkonsultasi dengan profesional. Dengan begitu, mereka dapat mendapatkan solusi dan penanganan trauma yang tepat. Dengan semua ini, kita dapat menghadapi dan membantu orang yang terjebak dalam perilaku playing victim dengan bijaksana dan empati.












