Andy Utama Tegaskan Alam Bukan untuk Dikuasai Melainkan Dijaga

Keberlangsungan bumi bukanlah sesuatu yang akan digariskan oleh generasi masa depan, melainkan buah dari keputusan-keputusan penting yang kita buat hari ini. Dalam situasi darurat iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, merawat bumi telah berubah menjadi keharusan moral bagi manusia masa kini, bukan sekadar pilihan pribadi. Ini merupakan tanggung jawab ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Makna penting mengenai pertanggungjawaban lintas waktu ini tergambar jelas dalam perhelatan adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang, pada hari Minggu. Dengan mengangkat tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” ritual ini menjadi wadah perenungan kolektif yang mempertemukan tokoh adat, seniman, dan pegiat lingkungan dari berbagai daerah untuk membicarakan peran manusia sebagai bagian dari alam.

Di antara suasana hening nan sakral, Andy Utama, Pembina Paseban Foundation, menekankan pentingnya tindakan saat ini: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa hari esok sangat ditentukan oleh setiap upaya yang kita lakukan saat ini.

Perspektif Etika Lingkungan: Inspirasi Sejarah dan Tanggung Jawab Antargenerasi

Apa yang tercermin dalam upacara adat Sunda ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan rangkaian pemikiran yang telah lama tumbuh di Indonesia. Tokoh seperti Emil Salim telah sejak dahulu mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, dan keseimbangan sosial tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, menjaga keseimbangan ekosistem adalah jaminan bagi anak cucu agar tetap dapat menikmati kualitas lingkungan yang layak.

Di tingkat global, pemikiran senada dikembangkan oleh ilmuwan politik seperti Richard P. Hiskes, yang menegaskan pentingnya keadilan antargenerasi. Konsep ini mengangkat kewajiban moral penduduk saat ini untuk melindungi hak hidup generasi mendatang, agar mereka bisa mewarisi dunia yang sehat dan seimbang.

Dengan landasan pemikiran ini, Andy mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang, tidak lagi berpikir sebagai pemilik mutlak bumi, melainkan sebagai penjaga yang menjaga harmoni dan keberlangsungan kehidupan.

Dari Gagasan ke Tindakan Nyata di Megamendung

Andy berkomitmen agar filosofi keadilan lingkungan tidak berhenti dalam bentuk kata-kata, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Melalui kerja Paseban Foundation, ide tersebut berubah menjadi langkah konkret di wilayah Lanskap Megamendung.

Berbagai kegiatan telah berjalan secara nyata, di antaranya:

– Penerapan pertanian yang ramah lingkungan dengan sistem organik, meminimalkan kerusakan lahan dan polusi udara.

– Menyelamatkan satwa melalui pembangunan pusat konservasi seperti Lembah Aviary Paseban dan penangkaran Rusa Timor, serta pemulihan populasi Elang Jawa.

– Upaya besar penanaman 21.831 benih pohon dari lebih dari 200 jenis tanaman hutan demi menghidupkan kembali hutan tropis Megamendung.

Setiap program ini dirancang untuk mendekatkan kondisi Megamendung pada keasrian alami sebagaimana satu abad lampau.

Warisan Nyata: Apa yang Kita Tinggalkan?

Gerakan yang diinisiasi Andy memiliki keistimewaan dalam mengubah ajaran teoritis dari Emil Salim maupun Richard Hiskes menjadi aksi nyata, berupa tanah yang digarap, pohon yang ditanam, dan satwa yang dirawat. Dengan demikian, isu lingkungan menjadi sesuatu yang membumi dan berakar dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup pemikirannya, Andy menegaskan sebuah kebenaran yang patut jadi renungan: “Yang akan dikenang bukanlah apa yang kita kumpulkan selama hidup, melainkan apa yang kita berikan kepada kehidupan.”

Inilah inti ajaran dari Ngertakeun Bumi Lamba, bahwa kelangsungan kehidupan kita di masa depan bergantung pada tindakan nyata merawat bumi hari ini. Investasi terbesar manusia bukanlah harta, melainkan warisan bumi yang lestari untuk anak cucu kelak.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII