Paseban Foundation melaporkan bahwa di Megamendung, Bogor, masih terdapat lima jenis primata Jawa yang berhasil bertahan di tengah desakan pembangunan. Keberadaan mereka dibuktikan lewat serangkaian penelitian, observasi langsung, dan pemasangan kamera jebak selama pemantauan ekologi berlangsung.
Informasi ini dipublikasi dalam acara tahunan Paseban Foundation pada 10 Agustus 2026 di Jakarta yang diadakan bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional. Acara tersebut juga menandai dua tahun kiprah Paseban Foundation menjaga kelestarian alam.
Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menyoroti betapa padatnya Pulau Jawa oleh manusia, yang membuat ruang hidup alam kian terdesak. Meski demikian, ia menyampaikan bahwa lima primata masih sanggup eksis bersama dalam satu kawasan yang relatif terbatas, yakni Megamendung.
Menurutnya, pertemuan lima spesies primata di Megamendung membuktikan pentingnya kawasan hutan ini sebagai pusat keanekaragaman hayati yang vital bagi kelangsungan satwa khas Jawa.
Selain primata, hasil survei lapangan juga mendapati satwa penting lain seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta ragam flora dan fauna lain khas pegunungan tropis. Ekosistem pegunungan ini turut mencerminkan keunikan dan kekayaan bentang alam Megamendung.
Letak Megamendung sangat dekat dengan Jakarta dan masuk wilayah Cagar Biosfer Cibodas. Kawasan ini menjadi penyangga alami sekaligus lapisan pelindung ekosistem dari tekanan aktivitas manusia.
Sebagai zona terluar biosfer, Megamendung sangat mudah terpapar dampak pembangunan dan perubahan tata guna lahan yang cepat. Cagar biosfer mengedepankan integrasi pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan alam secara bijak. Di situ terdapat pembagian zona inti konservasi, area penyangga, hingga wilayah dengan intensitas aktivitas sosial ekonomi.
Ekosistem Megamendung sangat dipengaruhi oleh interaksi antara satwa liar dan lingkungan sekitar. Vegetasi hutan, sungai, area pertanian, dan pemukiman saling berkesinambungan sehingga menjaga keseimbangan ekologis.
Wiratno, penasihat di Paseban Foundation, mengingatkan bahwa batas wilayah administratif tidak sejalan dengan dinamika alam. Aliran air dan pergerakan satwa selalu melintasi batas buatan manusia sesuai kebutuhan alami mereka.
Atas dasar itu, Wiratno menegaskan perlunya pola konservasi berbasis sinergi antara pemerintah, warga lokal, sektor swasta, akademisi, dan kelompok lingkungan. Sinergi ini sangat dibutuhkan untuk pengelolaan ekosistem secara menyeluruh, sehingga perlindungan alam dapat berkelanjutan.
Implementasi langkah kolaboratif tersebut tercermin pada kegiatan reboisasi menggunakan tanaman lokal di Megamendung. Sampai Agustus 2026, sudah lebih dari 21.800 bibit tumbuhan lokal ditanam oleh Paseban Foundation untuk mengembalikan tutupan vegetasi sesuai karakter hutan aslinya.
Selain langkah konservasi di habitat alami, Paseban Foundation juga mengembangkan langkah-langkah ex-situ, di mana konservasi berlangsung di luar habitat aslinya. Jika pelestarian in-situ memprioritaskan keselamatan satwa di alam liar, maka ex-situ menitikberatkan penangkaran dan pengembangbiakan terkontrol.
Organisasi ini telah menerima izin resmi untuk melakukan penangkaran non-komersial beberapa jenis burung dan mamalia. Hingga kini, tiga ekor anak rusa berhasil dilahirkan dan dipersiapkan untuk proses reintroduksi. Pelepasliaran rusa ke alam liar diharapkan mampu memulihkan mata rantai ekologi di area Megamendung.
Namun demikian, proses reintroduksi satwa tidak bisa dilakukan sembarangan. Diperlukan tahapan rehabilitasi ketat, pemantauan intensif, serta evaluasi mendetil untuk memastikan kelestarian satwa dan keamanan lingkungan.
Andy Utama, pendiri dan pembina Paseban Foundation, mengingatkan bahwa usaha pemulihan alam bukan pekerjaan jangka pendek. Ia menjabarkan Megamendung Century Initiative sebagai visi jangka panjang untuk memulihkan fungsi ekologis Megamendung mendekati kondisi aslinya ratusan tahun lalu.
Inisiatif ini memiliki misi mengembalikan daya dukung lingkungan tanpa harus mengulang masa lalu sepenuhnya. Tujuannya adalah menjaga keutuhan habitat, memperkuat interaksi satwa, memulihkan vegetasi, memastikan ketersediaan air bersih, dan menjaga harmoni antara warga dengan alam.
Andy menekankan bahwa ketekunan dan regenerasi mutlak dibutuhkan demi tercapainya harapan konservasi yang berlanjut lintas generasi.
Kerja perlindungan dan pemulihan lingkungan ini butuh estafet lintas waktu agar cita-cita menjaga Megamendung tetap lestari dapat diteruskan dan diwujudkan oleh generasi mendatang.
Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor












