Quiet Covering: Dampaknya pada Karir Karyawan Gen Z

Dunia kerja modern membawa istilah baru, yaitu quiet covering, yang menjadi pembahasan menarik terutama di kalangan Gen Z. Quiet covering menggambarkan keinginan karyawan generasi ini untuk diterima tanpa harus merasa ‘memendam’ diri agar tetap berkembang dalam karir. Mereka berharap dihargai berdasarkan kompetensi dan kontribusi yang mereka berikan.

Quiet covering pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino. Konsep ini mengacu pada praktik seseorang yang menyembunyikan identitas pribadi untuk menghindari diskriminasi, stereotip, dan penilaian negatif. Selain itu, praktik ini dilakukan untuk tetap terlihat lebih profesional dan layak mendapatkan promosi jabatan.

Di kalangan Gen Z, quiet covering sering kali ditunjukkan dengan ekspresi datar agar sulit dibaca emosinya oleh orang lain. Lebih dari separuh dari Gen Z memilih untuk menutupi masalah pribadi, baik itu terkait pengalaman hidup atau kesehatan mental, guna menunjukkan ketangguhan mereka di lingkungan kerja.

Hasil riset menunjukkan bahwa 97 persen karyawan pernah melakukan quiet covering, di mana 67 persen melakukannya dengan cukup sering. Alasan utama Gen Z melakukan quiet covering antara lain untuk menjaga profesionalisme, mencari penerimaan sosial, menghindari diskriminasi, serta membuka peluang karir dan penilaian kinerja yang lebih baik.

Namun, dampak dari quiet covering juga perlu dipertimbangkan. Jika dilakukan secara berlebihan, beberapa dampak negatif yang mungkin muncul antara lain menurunnya produktivitas, motivasi kerja, serta hambar perkembangan karir dan risiko stres. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menyesuaikan tindakan quiet covering agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental dan kehidupan pribadi mereka.

Source link