AI Menggeser Peta Keamanan Nasional, Indonesia Didorong Perkuat Kedaulatan Digital
Kecerdasan buatan atau AI kini tak lagi dipandang sekadar alat untuk mempercepat pekerjaan atau memudahkan layanan digital. Di panggung internasional, teknologi ini mulai masuk ke jantung persaingan negara, memengaruhi strategi keamanan, geopolitik, hingga cara negara menjaga kedaulatannya. Pesan itu mengemuka dalam Konferensi Mahasiswa Pascasarjana Internasional (IPGSC) yang digelar di Universitas Indonesia pada akhir Oktober 2025.
Dalam forum tersebut, Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital bidang sosial, ekonomi, dan budaya, menyampaikan pandangan mewakili Menteri Komunikasi dan Digital. Ia menegaskan bahwa transformasi digital telah berubah arah: dari sekadar agenda inovasi menjadi arena kontestasi strategis antarnegara.
Data dan Algoritma Jadi Aset Geopolitik
Menurut Raden Wijaya, kekuatan baru dalam persaingan global kini bertumpu pada data dan algoritma. Keduanya bukan lagi komponen teknis biasa, melainkan aset strategis yang ikut menentukan posisi sebuah negara di peta geopolitik dunia. Dalam pandangannya, penguasaan AI menjadi salah satu penentu utama siapa yang mampu memimpin arus perubahan teknologi global.
Ia menilai, dorongan di balik perkembangan AI tidak lagi hanya soal efisiensi atau kemajuan industri. Di balik itu, ada perebutan pengaruh dan dominasi yang semakin nyata antara negara-negara besar, terutama dalam menentukan standar teknologi masa depan.
Persaingan Teknologi Makin Terlihat di Medan Konflik
Salah satu contoh yang disebut adalah kemunculan DeepSeek dari Tiongkok. Dengan investasi sebesar 6,5 juta USD, perusahaan itu disebut mampu mengguncang valuasi pasar AI global dan menantang dominasi perusahaan-perusahaan Barat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persaingan teknologi berjalan cepat, agresif, dan sulit diprediksi.
Raden Wijaya juga mengaitkan penggunaan AI dengan konflik seperti Iran–Israel dan Rusia–Ukraina. Dalam konteks itu, AI dipakai untuk otomasi sistem pertahanan, pengolahan intelijen, hingga pengembangan senjata otonom. Artinya, AI bukan hanya mendukung inovasi, tetapi juga menjadi instrumen baru dalam persaingan strategis yang membawa risiko besar.
Risiko Ketergantungan dan Perebutan Standar
Di balik percepatan teknologi, ada ancaman lain yang tak kalah penting: ketergantungan pada teknologi asing dan potensi negara-negara unggul dalam menentukan standar internasional. Jika kondisi ini dibiarkan, negara yang tertinggal bukan hanya kehilangan daya saing, tetapi juga ruang untuk mengatur arah kebijakan digitalnya sendiri.
Ancaman Siber Makin Sulit Dibedakan dari Penggunaan Sipil
Selain AI, Raden Wijaya menyoroti ancaman siber yang kini memiliki sifat ganda atau dual-use. Teknologi yang awalnya dibuat untuk kebutuhan sipil bisa dengan cepat dialihkan menjadi alat ofensif oleh aktor negara maupun non-negara. Sistem komputasi awan, algoritma AI, dan infrastruktur digital dapat dimanfaatkan untuk penetrasi, sabotase, hingga peretasan data.
Ia menjelaskan bahwa ancaman siber setidaknya memiliki empat ciri utama. Pertama, sifat dual-use membuat perangkat sipil mudah dimanfaatkan untuk kepentingan militer atau kriminal. Kedua, serangan siber bersifat asimetris, sehingga kelompok kecil dengan biaya murah pun bisa menandingi kekuatan negara besar. Ketiga, serangan sering dilakukan secara tersembunyi dan sulit diatribusikan karena melibatkan pihak ketiga. Keempat, ancaman siber kerap beririsan dengan operasi informasi, termasuk penyebaran hoaks, propaganda digital, dan manipulasi opini publik melalui AI generatif.
Indonesia Diminta Percepat Talenta dan Pertahanan Digital
Bagi Indonesia, tantangan ini tidak bisa diperlakukan sebagai persoalan teknis semata. Raden Wijaya menegaskan bahwa yang dipertaruhkan adalah kedaulatan digital, keamanan nasional, serta stabilitas politik dan sosial. Karena itu, ia mendorong percepatan ekosistem talenta digital yang adaptif, peningkatan daya tangkal siber, dan penguatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, serta akademisi.
Ia juga menekankan pentingnya investasi pada penelitian AI dan infrastruktur mikroprosesor, disertai perlindungan terhadap sistem-sistem vital negara. Dalam persaingan teknologi yang semakin keras, Indonesia menurutnya tidak cukup hanya menjadi pengguna. Negara harus mampu menjaga, memelihara, dan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan nasional secara berkelanjutan.
Sumber: AI Dan Ancaman Siber Menguji Kedaulatan Digital Indonesia Di Tengah Persaingan Global
Sumber: AI, Geopolitik, Dan Ancaman Siber: Tantangan Kedaulatan Digital Indonesia Di Era Kompetisi Teknologi Global












