Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Hj. Ida Pionir & Tantangan Global

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Hj. Ida Pionir & Tantangan Global

Di tengah derasnya arus perubahan global, nilai kebangsaan dinilai tak boleh sekadar menjadi slogan. Pesan itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, di Hotel Parahyangan Ciamis, Kamis (11/12/2025). Kegiatan ini mempertemukan beragam unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan.

Empat Pilar sebagai Fondasi Persatuan

Dalam kegiatan tersebut, Empat Pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kembali ditegaskan sebagai dasar yang menjaga arah kehidupan berbangsa. Bagi Hj. Ida, empat pilar bukan hanya materi sosialisasi, melainkan pegangan yang harus hidup dalam keseharian warga negara Indonesia.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai luhur bangsa perlu terus dirawat agar tidak terkikis oleh pergeseran zaman. Menurutnya, komitmen anggota MPR RI dalam menyampaikan empat pilar kepada masyarakat menjadi bagian penting dari upaya memperkuat identitas kebangsaan, terutama di tengah tantangan yang kian kompleks.

Generasi Muda Jadi Sasaran Utama

Salah satu fokus utama dalam sosialisasi ini adalah generasi muda. Hj. Ida menilai pemahaman tentang empat pilar harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak muda tidak hanya mengenal simbol negara, tetapi juga memahami makna persatuan, keberagaman, dan tanggung jawab sebagai warga bangsa.

Suasana acara berlangsung hidup melalui diskusi interaktif, sesi tanya jawab, dan testimoni dari peserta. Antusiasme yang muncul menunjukkan bahwa isu kebangsaan masih mendapat perhatian kuat dari masyarakat, terutama ketika dikaitkan dengan kehidupan nyata dan tantangan sosial yang dihadapi bersama.

Ajakan Menjaga Kesadaran Kebangsaan Secara Berkelanjutan

Hj. Ida juga mendorong agar kegiatan serupa terus dilakukan secara berkesinambungan. Menurutnya, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa tidak cukup hanya lewat seremonial, tetapi membutuhkan penguatan pemahaman yang konsisten di tengah masyarakat.

Empat pilar, kata dia, ibarat tiang penyangga bangsa Indonesia. Jika tiang itu dijaga bersama, maka bangunan kebangsaan akan tetap kokoh meski diterpa berbagai dinamika. Dari Ciamis, pesan yang dibawa jelas: kebangsaan bukan warisan yang otomatis bertahan, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan, dipahami, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal empat pilar sebagai konsep, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman yang menjadi kekuatan Indonesia.